Peluh kami berdua mengalir membasahi punggung, leher, dada, perut dan hampir seluruh tubuh.“Farah sayang.. Lihat tuh.. Bokeb Kami termenung sejenak melihat seprei tempat tidurku basah dan ada bercak merah.“Maass.. Pikiran sehat muncul sejenak (sejenak saja! Emangnya kagak ada cewek yang gedean dikit?” begitulah komentar mereka.Aku tidak memberi reaksi banyak, paling tidak hanya tersenyum sambil menunjukkan kepalan tanganku dengan posisi jari telunjuk ke atas sambil berkata kepada mereka, “Fuck you, man!”Aku memanggilnya dengan Meis dan dia memanggilku dengan Mas Adit. kok pake nanya..?” balasku lembut.Jariku tetap nakal bermain-main di puting susunya yang menggairahkan.“Maass.. Kami berpagutan, berkecup, berpelukan, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh-tubuh telanjang kami. Kami berpelukan seolah-olah tidak akan saling melepaskan. Kukecup keningnya dan reaksinya, dia diam dan waktu kulihat matanya tertutup.“Meis, aku sayang kamu, Non..” bisikku di depan bibirnya.“Hmm.. Dia pun bangun dan ikut membereskan bajunya yang berserakan di atas lantai.Kami berdiri berhadapan, saling berpandangan mesra dengan tubuh telanjang.




















